DUA JIWA

Dua kepribadian

Dua jiwa

Satu raga

Itulah adanya
Kadang saling bercengkerama

Kadang saling berlawanan

Akhirnya satu keputusan jua
Lucu

Meragu

Bimbang

Riang
Keduanya terbiasa dengan sedemikian rupa

Sanggupkah aku menjaga keduanya?
Bidadari

Bidadara
Inilah aku; pemilik dua jiwa

-Shelly Fw, 9 November 2016-

Pesan Sang Bintang

Rapuh meradang

Mematahkan sendi-sendi harapan

Hancur tanpa meninggalkan bayang

Kering kerontang; bersemu hitam
Kala kepala menengadah ke langit, bahkan sinar bintang-bintang berpaling

Seakan enggan mendengar cerita lagi, enggan mencecap luka hati

Tapi itulah cinta; dapat menjelma dalam kebahagiaan pun dalam kepiluan 
“Tetap saja,” gumam sang bintang

“Kau wanita, manusia. Aku bukan. Harapanmu baiknya kau jaga.

“Kau tak seperti diriku yang selalu memiliki harapan yang sama.”
Berjaga-jagalah!

Pada wanita yang berduka; terlalu buta ‘tuk menjaga harapan demi cinta.

seperti itulah pesan bintang kepada mentari senja hampir tenggelam lenyap, atau kepada besoknya; kala fajar mereka, kembali panas amarah dari pagi hingga sorenya bersama kebodohan semenit barusan.

– – –

Ada terhimpit, terjepit, mengapit, satu titik, namun tak ingin indentik, hanya serakah dengan ego sendiri. Tak penting orang lain, saat ini aku bodoh karena terlalu mencintai.

-28 November 2016, Marshall & Shelly Fw a.k.a esfladys-

Sajak #1 

(1)

Ringan, seringan udara

Di sini hangat, membuai asa

Kututup mata, cahaya itu tetap ada

Adakah sang penjaga? Aku ingin ia tetap di sana

 

(2)

Rasa kantuk menjemput, mungkin hingga fajar nanti

Semuanya samar, kecuali jalan menuju mimpi

Menggantikan rasa lelah yang tak terbagi

Padanya, aku berserah diri

berserah diri

 

(3)

Ringan, seringan awan

Penyelamat datang, belum terlalu malam

Bersinar dalam tentram, seterang cahaya bulan

Jika di ujung sana ada jalan, bolehkah aku menyebutnya sebagai harapan? 

[Sajak-sajak dalam cerita Dinar vs Si Kembar]

=Shelly Fw, 2015=

Pejuang Harapan

Geram

Bersarang

Tak kunjung hilang

Menguasai bahkan dalam diam
Lebam

Menghitam

Bukan dalam raga

Melainkan menggerogoti jiwa
Hitam tak selalu hitam

Putih tak selalu putih 

Yang stagnan tak pernah kekal

Sadarkah kau, luapan itu dapat kau kendalikan?
Bukan, itu bukan halangan

Kau masih bisa tersenyum, sayang

Tunjukkanlah pada dunia bahwa kau adalah pejuang harapan 

Selaraskan hati dan pikiran
Karena hidupmu terlalu berharga untuk dikuasai perasaan
-Shelly Fw, 28 Desember 2016-